"Kyai perkenankanlah saya menanyakan bagaimana hukumnya apabila seseorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?
Tertegun Kyai Sholeh Darat..
"Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?" Kyai Sholeh Darat balik bertanya.
"Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya , mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab piminan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?"
setelah pertemuan itu nampaknya Kyai Sholeh Darat tergugah hatinya. Beliau kemudian mulai menuliskan terjemah Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada pernikahan kartini, kyai Sholeh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim.
Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti sesungguhnya. Tapi sayang, tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia, sehingga Al-Quran tersebut belum selesai diterjemahkan seluruhnya ke dalam bahasa Jawa.
Dari terjemahan ini Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 257 bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minazh-Zhulumaatiilan Nuur)
Kartini terkesan dengan kata-kata Minazh-Zhulumaatiilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya karena kartini merasakan sendiri proses perubahan dirinya, dari kegelisahan dan pemikiran tak-berketentuan kepada pemikiran hidayah (How Amazing!)
Dalam surat-suratnya kemudian, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat "Dari Gelap Kepada Cahaya" ini. (Sayangnya, istilah ini yang dalam bahasa Belanda adalah "Door Duisternis Tot Licht" menjadi kehilangan maknanya setelah diterjemahkan oleh Armijn Pane menjadi "Habis Gelap Terbitlah Terang")
Nampaknya masa-masa ini terjadi transformasi spiritual bagi Kartini. pandangan Kartini tentang Baratpun mulai berubah, setelah sekian lama sebelumnya dia terkagum dengan budaya Eropa yang menurutnya lebih maju dan serangkaian pertanyaan-pertanyaan besarnya terhadap tradisi dan agamanya sendiri.
Ini tercermin dalam salah satu suratnya ;
Bahkan Kartini bertekad untuk berupaya untuk memperbaiki citra Islam yang selalu dijadika bulan-bulanan dan sasaran fitnah. Dengan bahasa halus Kartini menyatakan :
di surat-surat lain :
Tertegun Kyai Sholeh Darat..
"Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?" Kyai Sholeh Darat balik bertanya.
"Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya , mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab piminan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?"
setelah pertemuan itu nampaknya Kyai Sholeh Darat tergugah hatinya. Beliau kemudian mulai menuliskan terjemah Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada pernikahan kartini, kyai Sholeh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim.
Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti sesungguhnya. Tapi sayang, tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia, sehingga Al-Quran tersebut belum selesai diterjemahkan seluruhnya ke dalam bahasa Jawa.
Dari terjemahan ini Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 257 bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minazh-Zhulumaatiilan Nuur)
Kartini terkesan dengan kata-kata Minazh-Zhulumaatiilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya karena kartini merasakan sendiri proses perubahan dirinya, dari kegelisahan dan pemikiran tak-berketentuan kepada pemikiran hidayah (How Amazing!)
Dalam surat-suratnya kemudian, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat "Dari Gelap Kepada Cahaya" ini. (Sayangnya, istilah ini yang dalam bahasa Belanda adalah "Door Duisternis Tot Licht" menjadi kehilangan maknanya setelah diterjemahkan oleh Armijn Pane menjadi "Habis Gelap Terbitlah Terang")
Nampaknya masa-masa ini terjadi transformasi spiritual bagi Kartini. pandangan Kartini tentang Baratpun mulai berubah, setelah sekian lama sebelumnya dia terkagum dengan budaya Eropa yang menurutnya lebih maju dan serangkaian pertanyaan-pertanyaan besarnya terhadap tradisi dan agamanya sendiri.
Ini tercermin dalam salah satu suratnya ;
"Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyrakat Eropa itu benar-benar satu0satunya yang palin baik. tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyrakat Eropa itu sempurna?
Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyrakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?" [Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902]
Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyrakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?" [Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902]
Bahkan Kartini bertekad untuk berupaya untuk memperbaiki citra Islam yang selalu dijadika bulan-bulanan dan sasaran fitnah. Dengan bahasa halus Kartini menyatakan :
"Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai." [Surat Kartini kepada Ny. Van Koh, 21 Juli 1902]
di surat-surat lain :
"Astagfirullah, alangkah jauhnya saya menyimpang" (surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 5 Maret 1902]
"Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: Hamba Allah (Abdullah)." (Surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 1 Agustus 1903)
"Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada Allah, tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dia-lah yang dapat menyembuhkan." (surat Kartini kepada Byonya Abandanon, 1 Agustus 1903)
"Menyandarkan diri kepada manusia, samalah halnya dengan mengikatkan diri kepada manusia. jalan kepada Allah hanyalah satu. Siapa sesungguhnya yang mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia pun ia sebenar-benarnya bebas" (Surat kepada By. Ovink, Oktober 1900)
Habis..oleh Roma, disitir dari inhandlearning.com
smoga bermanfaat.wassalamualaikum
"Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada Allah, tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dia-lah yang dapat menyembuhkan." (surat Kartini kepada Byonya Abandanon, 1 Agustus 1903)
"Menyandarkan diri kepada manusia, samalah halnya dengan mengikatkan diri kepada manusia. jalan kepada Allah hanyalah satu. Siapa sesungguhnya yang mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia pun ia sebenar-benarnya bebas" (Surat kepada By. Ovink, Oktober 1900)
Habis..oleh Roma, disitir dari inhandlearning.com
smoga bermanfaat.wassalamualaikum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar