Tampilkan postingan dengan label Jurnalistik Here. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnalistik Here. Tampilkan semua postingan

Rabu, November 19, 2008

Tulisan yang Baik Adalah... (Bag 2)



5. Memaparkan ide, konsep, gagasan, atau hasil perenungan yang bermanfaat bagi khalayak umum.
Ide, konsep atau gagasan bisa kita petik dari siapa pun dan dari sumber apapun. Atau bisa juga semua ide, gagasan atau konsep yang sudah kita baca kemudia direnungkan secara dialektis untuk kemudian melahirkan ide atau konsep yang baru. Jangan sekali-kali menjadi plagiat. Kita harus jujur dengan ide, gagasan atau konsep yang dikemukakan. Kalau ide, gagasan atau konsep itu "milik" orang lain maka kita wajib mencantumkan siapa "pemilik" ide tersebut, dan mencantumkan sumbernya. Sedangkan ukuran bermanfaat atau tidaknya bagi pembaca akan ditentukan oleh sebarapa luas wawasan kita dalam memahami persoaln sosial kemsayrakatan.

6. Penulisnya menguasai betul persoalan yang hendak ditulis.
Yang dimaksud dengan "menguasai betul persoalan yang hendak ditulis" adalah seorang penulis hendaknya memiliki referensi yang komperhensif tentang persoalan yang akan diangkat ke dalam tulisan. sehingga tulisan yang dibuat memiliki bobot yang memadai sebagai sebuah bentuk kontribusi dari penulis bagi para pembaca. Dalam arti lain, penulis sebisa mungkin harus menyajikan sebuah tulisan yang tidak akan mengundang sinisme pembaca.
Apabila kita memiliki latar belakang pendidikan di bidang kesehatan maka alangkah baiknya kita menulis di seputar kesehatan. Bukan saja kredibilitas tulisan akan terjaga melainkan juga kita akan semakin dituntut untuk berkonsentrasi di bidang yang kita kuasai. Kian lama kita menjadi seorang yang ahli di bidang kesehatan, sehingga redaktur akan semakin mengenal tulisan kita.

7. Menarik, runut, dialektis, argumentif, obyektif
Menarik, artinya menceritakan sebuah kesan bagi pembaca bahwa tulisan yang dibuat adalah sesuatu yang layak untuk dibaca. Runut, artinya tulisan harus dibuat secara sistematis dengan metedologi yang mudah dicerna oleh para pembaca. Argumentatif, artinya sebuah tulisan tidak dimuati oleh asumsi-asumsi yang belum teruju, melainkan berdasarkan argumentasi atau alasan-alasan logis yang dapat "diterima" oleh akal sehat. Obyektif, artinya tulisan yang dibuat tidak berdasarkan nilai kebenaran versi si penulis semata. Sedapat mungkin harus menghindarkan diri dari unsur-unsur subyektivisme. Dengan demikian, tulisan kita bukan untuk saja menarik dan enak untuk dibaca melainkan juga isinya bisa dipertanggungjawabkan, baik secara moral maupun secara intelektual

8 Makna atau pesan dalam tulisan harus "sampai" kepada para pembaca..
Tulisan yang baik adalah tulisan yang dapat mentransformasikan pesan-pesan yang ada di dalam tulisan menjadi sampai kepada para pembaca. Dalam hal ini, bahasa yang digunakan harus mudah dipahami dan mudah dicerna oleh para pembaca. Jangan sekali-kali, seorang penulis, beranggapan bahwa pola pikirnya sama dengan pola pikir para pembaca. Sedapat mungkin seorang penulis mampu membaca peta pola pikir para pembaca dari masing-masing media. Paling tidak, pola pikir anak muda (ABG) tentu berbeda dengan pola pikir manusia setengah baya, dan seterusnya. Jadi, tulisan yang kita buat harus disesuaikan dengan siapa yang akan membaca tulisannya.

9. Untuk penulisan kata-kata asing sebaiknya disertai penjelasan
Kata-kata asing biasanya ditulis miring dalam kurung. usahakan sebisa mungkin untuk tidak terlalu banyak menggunakan istilah-istilah asing. Kendati demikian, pnggunaan kata-kata asing memang tidak apa-apa selain hal ini diperlukan agar tifak terjadi salah tafsir para pembaca. Dalam penulisan bahasa Indonesia lazimnya kata-kata atau istilah asing disimpan dalam kurung dengan cetak miring. Misalnya : massa mengambang (floating mass)

10. Memahami gaya bahasa yang dikembangkan sebuah media massa.
Jika kita hendak mengirimkan sebuah tulisan kepada salah satu media massa, harus memperhatikan betul karakter dan gaya bahasa yang digunakan oleh media tersebut. Gaya bahasa majalah remaja, tentu berbeda dengan gaya bahasa majalah umum. Gaya bahasa TEMPO, Femina, Gadis tentu berbeda. begitu juga dengan gaya bahasa KOMPAS atau Pikiran Rakyat

Selasa, November 18, 2008

Tulisan yang Baik Adalah... (Bag I)

Parameter untuk tulisan yang baik yang penulis maksudkan adalah beberapa indikasi kelayakan sebuah tulisan untuk diterbitkan, baik oleh majalah maupun oleh koran. Parameter ini bersifat umum. Jadi, hampir semua media massa menggunakan parameter tersebut. Namun di balik semua itu ada tiga faktor lain yang baik secara teknis atau non teknis, bisa mempengaruhi dimuat tidaknya sebuah tulisan. Beberapa parameter yang dimaksud dengan tulisan yang baik, di antaranya :

1. Mengandung Unsur Baru, atau ada sisi lain yang bisa dikemukakan.

Yang dimaksud dengan "mengandung unsur baru" adalah sebuah tulisan harus sedapat mungkin mengangkat hal-hal yang baru, baik yang menyangkut konsepsi, teori, atau perkembangan terbaru yang sedang trend. Atau ada sisi lain, baik itu cara pandang alternatif, hasil olah dialektika alternatif, atau bisa juga mengungkapkan hal-hal yang klasik tetapi dengan cara pandang yang berbeda. hal-hal atau unsur baru ini, dapat diketemukan manakala kita dapat menggali ide. Ide hanya mungkin bisa digali apabila kita memiliki sejumlah referensi, baik teori atau temuan terhadap sebuah kasus atau persoalan. baru kemudian kita membidik persoalan itu secara fokus dengan cara pandang tertentu.

2. Kalau Mungkin Persoalan yang diangkat Adalah Hal yang Aktual (bisa reaktualisasi).

Persoalan yang aktual adalah masalah yang sedang ramai dibicarakan secara luas. Namun hal yang aktual ini tidak bersifat mutlak sebab ada hal-hal klasik yang sebenarnya bisa direaktualisasikan. Tinggal sekarang, dari sudut mana kita mengangkat sebuah kasus atau fenomena, akan turut menentukan seberapa menarik sebuah tulisan dibuat. Ibarat kita melihat sebuah mobil, ketika orang ribut soal trend modifikasi, maka kita juga bisa menulis persoalan mobil yang sama namu dari sisi yang berbeda. Sebagai misal, kita lebih menyoroti mobil tersebut dari sisi karoseri, tahun pembuatan, dan seterusnya. Atau ibarat menggambar sebuah obyek. Kalau masyrakat sedang menyenangi gambar harimau yang sedang marah, maka sedapat mungkin kita harus menggambar harimau yang sedang marah.

3.Tidak Bersifat Menggurui, tidak bertele-tele

Kelemahan dari banyak penulis pemula adalah adanya pemunculan ego dari si penulis. Seolah dirinya lebih tahu dan lebih paham atas sebuah persoalan sehingga menganggap dirinya memiliki argume yang tidak terbantahkan. Akibatnya, sering sebuah tulisan terkesan menggurui. Atau, ada juga persoalan hal ini biasanya terjadi atai dialami oleh sebagian besar penulis pemula adalah tulisan dibuat dengan bertele-tele. Banyak terjadi adanya pengulangan kalimat atau kata (repetisi), atau karena terlalu menonjolkan satu sisi maka sisi dari persoalan yang sama menjadi tidak tersentuh. Akibatnya sebuah tulisan menjadi menjenuhkan. jadi bagaimana mengajak tahu pembaca atas sebuah tulisan menjadi menjenuhkan. jadi bagaimana mengajak tahu para pembaca atas sebuah persoalan yang diangkat menjadi penting, hal ini berbeda dengan mengahdirkan kesan menggurui. untuk itu, pemilihan kata dan kalimat hendaknya menjadi perhatian serius bagi setiap calon penulis. Tetapi juga jangan memberikan kesan "merendahkan diri" penulisnya.

4. Tidak Mendikte, atau memaksakan kehendak.

Maksudnya adalah sebuah tulisan harus ,menghindari dari kesan mendikte pembaca. sekalikali jangan beranggapan bahwa pembaca lebih bodoh dari penulis. oleh sebab itu, tulisan yang baik adalag tidak bersifat memaksakan kehendak atau mendikte. kalau toh seorang penulis sangat memercayai sebuah teori atau sebuah temua, maka ketika hal itu diangkat dalam sebuah tulisan maka sang penulis harus memosisikan dirinya sebagai seorang yang skeptis, tidak percaya begitu saja terhadap sesuatu namun juga jangan tidak percaya sama sekali terhadapa sesuatu.