Rabu, Februari 04, 2009

Doa Dan Usaha


Dikisahkan, ada seorang pemuda sedang naik sepeda motor di jalan raya. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya seperti ditumpahkan dari langit. Dengan segera ditepikan sepeda motornya untuk berteduh di emper sebuah toko. Dia pun membuka helm yang dikenakan dan segera perhatiannya tercurah pada langit di atas yang berlapis awan kelabu.

Sambil menggigil kedinginan, bibirnya tampak berkomat-kamit melantunkan doa, "Tuhan, tolong hentikan hujan yang kau kirim ini. Engkau tahu, saya sedang didesak keadaan harus segera tiba di tempat tujuan. Please Tuhan....., please..... Tolong dengarkan doa hambamu ini". Dan tak lama kemudian tiba-tiba hujan berhenti dan segera si pemuda melanjutkan perjalanannya sambil mengucap syukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah mendengar dan mengabulkan doanya.

Di waktu yang berbeda, di cuaca yang masih tidak menentu, lagi-lagi hujan turun cukup deras dan kembali si pemuda mengulang kegiatan yang sama seperti pengalamannya yang lalu, yakni berdoa memohon Tuhan menghentikan hujan, tetapi kali ini hujan tidak berhenti bahkan semakin deras mengguyur bumi. Di tengah menunggu berhentinya hujan, si pemuda sadar, dia harus berupaya menemukan dan membeli jas hujan untuk mengantisipasi saat berkendaraan di tengah hujan. Kali ini, walaupun terlambat, dia belajar sesuatu hal yakni ada saatnya mengucap doa tetapi juga harus disertai dengan usaha yaitu menyiapkan jas hujan.

Suatu hari, di waktu yang berbeda,si pemuda ke kantor tanpa sepeda motornya karena mogok akibat kebanjiran. Hujan yang kembali turun, tetapi jas hujan yang telah dibeli, saat dibutuhkan, tiba-tiba raib entah kemana. Dia pun mulai bertanya kesana kemari, barangkali ada yang bersedia meminjamkan payung atau apapun untuk melindunginya dari terpaan guyuran hujan. Kembali diulang doa yang sama, usaha yang sama, dan harapan yang sama pula. Eh,tiba-tiba seorang teman yang bersiap hendak meninggalkan tempat itu dengan berkendaraan mobil berkata, "Hai teman, kalau kita searah jalan. Ayo ikut aku sekalian. Aku antar sampai tempat tujuanmu dan dijamin tidak kehujanan, oke?". maka si pemuda itu pun mendapat tumpangan dan pulang ke rumah dengan selamat.

Peristiwa alam yang sama, yakni turunnya hujan, telah mengajarkan si pemuda bahwa selain doa, harus usaha dan akhirnya berserah. Karena jika kita mau membuka hati, ternyata Tuhan tidak pernah meninggalkan kita tetapi kitalah yang harus berupaya dengan segala cara dan pikiran yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita.


Pembaca yang budiman,

Hanya sekedar mengandalkan doa saja namun tanpa usaha dan kerja nyata tidak mungkin ada perkembangan, hasil akhirnyapun pasti nihil alias kosong, sedangkan sekedar kerja keras tanpa diiringi doa memungkinkan kita salah bertindak karena hanya memikirkan hasilnya. Dengan dilengkapi doa tentu usaha kita itu terarah di jalan yang benar, baik dan halal, maka yang paling ideal adalah usaha dan kerja keras kita yang diiringi dengan doa, niscaya segala usaha kita akan dikabulkan dan tentu hasil yang kita inginkan akan sukses dan memuaskan.

Jumat, Desember 05, 2008

Sabar Atas Musibah yang Menimpa

Oleh : Bossyana

Sesungguhnya Allah Maha Menentukan, Maha Tahu, Maha Berkehendak, Maha Bijaksana dan berkuasa atas segala sesuatunya. Semua yang kita alami di muka bumi ini, dari yang buruk hingga yang baik, dari yang batil hingga yang haq, dari kita hidup hingga kita mati, semuanya terjadi atas kehendak, ketentuan dan kebijaksanaan dari Allah. Nikmat dan musibah datang silih berganti. Ketika limpahan nikmatNya tercurah buat kita, seolah-olah kitalah yang menggapainya. Bahkan sering kita katakan inilah kerja kerasku, namun ketika musibah itu datang, tidak banyak diantara kita yang berani mengatakan ini juga akibat ulahku. Padahal kita tahu, hanya dua yang Allah minta dari kita yaitu bersyukur dikala mendapat nikmat dan bersabar saat ditimpa musibah.

Saudaraku...
Anugerah terindah yang pernah Allah berikan ialah akal yang sehat, hati yang khudu′ dan jiwa yang tenang. Namun seringkali akal sehat itu sakit, hati yang khudu′ itu sombong yang akan melahirkan jiwa yang tidak pernah tentram. Padahal penciptaan kita diiringi dengan nilai-nilai ketuhanan yaitu hanif (fitrah manusia pada Allah) dan seringkali kita terbuai oleh bujukan-bujukan nafsu dunia yang cenderung membawa kita pada kelakuan & kebiasaan yang membuat kita semakin jauh dari Allah atau setidaknya akan menutupi hati kita dari sisi kefitrahannya. Walau pada kenyataannya kita tetap melaksanakan kewajiban kita dalam beribadah sehari-hari. Jadilah Ibadah kita tanpa nilai ibarat badan tanpa ruh, bak lukisan tak berwarna & laksana rumah tak bertuan.



Saudaraku...
Dalam keadaan sadar ataupun tidak, seringkali kemunafikan kita dihiasi oleh keshalihan semu. Seringkali yang batil kita bungkus dengan sesuatu yang hak bahkan kita campurkan keduanya sehingga tidak jelas mana yang putih dan mana yang hitam. Semuanya kita samarkan. Ibarat shalat diatas sajadah yang bernajis dan laksana mencuri yang dimulai dengan basmalah. Padahal kita tahu bahwa Allah mengetahui apa yang tampak maupun tersembunyi bahkan Dia sangat jeli terhadap sesuatu yang tersirat apalagi yang tersurat karena Ia maha tahu atas segala sesuatunya.

Saudaraku...
Tawaran keduniawian yang semu seringkali menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan yang kita miliki sehingga kita terjebak, terperosok bahkan tenggelam dalam kolam-kolam kemaksiatan dan kehinaan. Tetapi Allah begitu penyayangnya sampai-sampai pintu taubat-Nya tidak pernah tertutup dan tangan-tangan kasih dan sayang-Nya selalu terbuka lebar bagi hamba-hambaNya yang ingin kembali. Selangkah kita kepada-Nya maka seribu langkah-Nya kepada kita.

Saudaraku...
Istigfarlah karena Dia gafurruurahim (pengampun dan penyayang) Bertaubatlah karena Dia tawwaburrohim (penerima taubat dan penyayang)

Saudaraku...
Bersyukurlah..., karena kita masih diberi-Nya kesempatan tuk menikmati keindahan bersamaNya. Kita masih diberinya kesempatan untuk berkhalwat bersama-Nya ditengah keheningan malam tatkala para malaikat turun ke bumi. Dan.... Kita masih diberi kesempatan untuk mereguk manisnya madu ibadah sementara lambaian tangan bidadari surga tak hentinya bergerak merindukan perjaka-perjaka haus mahabbah penghuni surga.

Saudaraku...
Tidakkah hatimu tergerak untuk kembali? Karena ku ingin mengatakan padamu bahwa : "Aku tahu bahwa Allah masih mencintaiku dan terus mencintaimu"

untuk romanagement team..dan yang membaca blog ini